Sekilas Dioxin


Dengan nama asalnya yaitu polychlorinated dibenzodioxins (PCDD), termasuk dalam golongan senyawa halogena organik. Sebuah bahan yang akan menyebabkan polusi lingkungan. Dioxin tersusun dengan adanya pembuatan organokloride, suatu pembakaran bahan-bahan yang mengandung klorin seperti PVC (polyvinyl chloride), proses pemutihan kertas, dan dari sumber alami seperti yang berasal dari gunung berapi dan kebakaran hutan.

Struktur kimia dioxin terdiri atas dua cincin benzena yang terhubung oleh dua buah jembatan oksigen. Nama dioxin mengacu pada pusat cincin ter-dioxgenasi, yang distabilkan dua buah cincin benzena. Pada dioxin, atom klorin digabungkan pada struktur di 8 tempat yang berbeda pada molekul, posisi 1-4 dan 6-9. Ada 75 jenis yang berbeda pada PCDD. Kadar racun dari PCDD tergantung pada jumlah dan posisi dari atom klorin. Pada posisi 2, 3, 7, dan 8 telah ditemukan bahwa hal ini sangat beracun. Faktanya, posisi 7 mempunyai atom klorin pada posisi yang relevan diperhitungkan sebagai racun oleh NATO.

Dioxin diserap oleh tubuh bagian besar oleh makanan yang mengandung lemak, yang terakumulasi pada hewan dan manusia. Pada manusia dioxin terklorinasi tinggi tersimpan dalam lemak tipis. Pada 1994 dilaporkan oleh EPA Amerika Serikat bahwa dioxin sangat mungkin karsinogen. Tetapi efek non kanker (pada seksual dan reproduksi, kekebalan tubuh) dapat terlihat pada hampir seluruh kesehatan manusia. Kasus yang paling terkenal dari seseorang yang terkena akibat dari dioxin adalah Viktor Yushchenko, seorang calon presiden dari Ukraina, pada wajahnya muncul sangat banyak jerawat setelah insiden keracunan PCDD.

Salah satu hal penggunaan dioxin yang dapat dan sering dijumpai adalah pada proses pemutihan kertas. Proses pemutihan kertas sangat tergantung dari penggunaan bahan kimia. Kertas-kertas yang digunakan untuk daur ulang, meliputi berbagai kertas bekas mulai dari karton, kardus, kertas koran dan sebagainya. Hasil akhir dari proses ini seperti tissue yang sering digunakan untuk wajah, tissue makan, serta bahan dasar pampers, diapers, dan pembalut wanita. Kita memang tidak mengetahui secara pasti kandungan dan bahan dasar yang digunakannya. Tetapi dapat dihindari dengan cara pemilihan produk yang dapat dipastikan dan dipercaya tidak mengandung bahan berbahaya.

Hanya dengan kehati-hatian dan sedikit pengetahuan tentang bahan dasar dan kandungan kimia suatu produk akan dapat dihindarinya resiko terkena ataupun terinfeksi dari bahan berbahaya seperti dioxin. Tidak mudah memang, atau bahkan bisa sedikit mahal, tetapi hal itu akan terbayar dengan kesehatan kita yang selalu terjaga, sehingga pengeluaran untuk menjaga kesehatan akan berkurang.

Prambanan Ekspress


Hal berikut terjadi di dalam kereta Prambanan Ekspres (Prameks) yang aku tumpangi beberapa waktu lalu. Kereta yang membawaku dari kota Kutoarjo menuju Jogjakarta. Suatu pilihan alat transportasi yang relatif baru tapi segera menyedot perhatian banyak orang. Ada sedikit rasa penasaran ketika aku menjejakkan kaki naik ke dalam kereta ini. Gerbongnya sudah berubah dari kali pertama diluncurkan sebelas tahun silam. Dulu dengan lokomotif BB dan dirangkai dengan dua atau tiga gerbong penumpang yang telah direstorasi. Sekarang dengan empat sampai enam kereta rel diesel, meski bekas dan telah direstorasi di dalam negeri. Tidak mengecewakan, bersih, tidak pengap dan tidak panas. Dulu tiket seharga Rp 2.500, sekarang Rp 7.000 untuk Jogjakarta-Kutoarjo dan Jogjakarta-Palur. Untuk Kutoarjo-Palur harga tiket Rp 14.000.
Tidak ada penumpang terlihat memegang rokok yang berasap alias tidak ada orang yang merokok. Mungkin ada juga yang mengabaikan himbauan ini, mungkin hanya satu atau dua orang yang merokok dalam satu hari. Telah disediakan tempat sampah yang memadai di setiap kereta, dan penumpangpun mulai sadar untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat. Meski agak jauh, penumpang tidak membuang sampah melalui jendela. Toh berjalanpun tidak akan sempoyongan.
Ada yang kurang meskipun tidak terlalu dikeluhkan dan bahkan jarang yang membicarakan. Tempat duduk yang solid, sehingga bagi beberapa orang akan terasa keras. Satu lagi, tempat pegangan bagi penumpang berdiri terlalu tinggi untuk kebanyakan penumpang. Padahal kereta ini penuh sesak di pagi hari, baik dari arah Kutoarjo atau dari Solobalapan. Tidak jarang penumpang berdiri tidak kebagian pegangan. Luar biasa kan? Resiko terjatuh dalam perjalanan sih belum ada, hanya saja agak berkurang kenyamanannya.
Tidak usah takut kehausan dalam perjalanan. Dalam kereta ini ternyata sudah ada restoran berjalan mini. Memang yang ditawarkan hanya air minum kemasan, minuman ringan, makanan ringan, permen, dan koran. Jangan ditanya soal harga, sudah tentu berbeda dengan yang dijual di toko sebelah rumah. Berjalan dalam sebuah kereta dorong dengan dua orang penjual, yang akan berjalan di sepanjang rangkaian. Pernah sekali waktu aku teliti satu per satu tanggal kedaluwarsanya. Ternyara tidak ada satupun yang lewat dari tanggalnya, mepet pun tidak. Aman kan?
Satu jam kurang untuk satu kali jalan dari Jogjakarta ke Solobalapan atau ke Kutoarjo. Kalau dibandingkan dengan bus antar kota jelas sekali perbedaannya. Dari sisi waktu akan menghemat setengah sampai satu jam, sedang dari segi harga ada selisih antara empat sampai lima ribuan. Murah meriah bagi mahasiswa dan karyawan, tepat waktu lagi. Kenyamanan dan keamanan semakin menjadi kebutuhan dan ternyata tidak perlu mahal. Dengan adanya tambahan kereta di hari Jumat, Sabtu dan Minggu semakin dapat mengurangi beban Prameks dan dapat memberi lebih banyak pilihan akan jam keberangkatan bagi penumpang. Bahkan pada hari minggu dioperasikan kereta Prameks Eksekutif untuk jalur Jogjakarta-Solobalapan. Kereta ini dirangkai dengan Argo Lawu dan Taksaka.
Kecelakaan yang terjadi di awal bulan Juli ini menjadi catatan tersendiri bagi para penggemar. Tetapi mereka tidak terlalu mempersoalkan. Para fans ini lebih tertarik kepada kebersihan, kenyamanan dan ketepatan waktu. Kecelakaan adalah hal yang lain. Keamanan atas barang pribadi? Sudah pasti bila ada kasus kehilangan mereka akan berteriak nyaring. Dan semoga hal ini tidak terjadi.
Di antara penumpang terlihat ada yang bertegur sapa, sudah terlihat akrab, bermain dengan handphonenya, bengong, bahkan tidur. Apa yang dapat kita lihat? Sebenarnya tidak perlu mahal untuk dapat mencari teman. Bahkan siapa tahu dari perkenalan dengan sesama pengguna kereta ini akan tercipta banyaknya orang yang dapat menjadi tempat berbagi, bersama membangun diri, ataupun mendapatkan rejeki lain.

Kue Siapa


Tulisan ini diambil dari siaran di sebuah stasiun radio di Jogja. Dikisahkan pada suatu ketika di sebuah bandar udara. Seorang wanita karir sedang menunggu pesawat terakhir yang akan mengantarnya pulang ke kotanya. Keberangkatan pesawat itu masih lama, sekitar dua, bahkan bisa tiga jam bila ada delay keberangkatan. Malam itu tidak banyak penumpang yang berada di bandara. Semakin membuat dingin udara malam semakin dingin.

Untuk mengisi waktu, wanita itu jalan-jalan sambil mencari makanan kecil dan buku bacaan. Berjalan sambil menghangatkan badan. Beberapa saat kemudian, terlihat wanita tersebut menenteng sebuah buku dan sekantung makanan kecil. Tidak susah untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman di sana, memang suasana sedikit lengang. Didapatkannya sebuah tempat duduk dengan sebuah meja kecil di sampingnya. Di seberang meja tersebut duduk pula seorang pria paruh baya dengan penampilan yang kurang meyakinkan bahkan sedikit kusut. Sedikit keraguan melanda wanita itu tatkala melihat sepintas pria di seberang meja di antara mereka. Dengan sedikit angkuh, wanita itu duduk. Dengan santai mulailah membuka buku yang baru saja dibelinya. Halaman demi halaman dibaca kata demi kata. Sambil membaca buku, tangannya meraih dan mengambil makanan kecil yang ada di meja sampingnya. Tanpa memperhatikan sekelilingnya, dia terus membaca sambil makan makanan kecil di tangannya.

Wanita itu terkejut ketika ada tangan yang mengambil makanan kecil tersebut. Ketika dia berpaling ke arah tangan tersebut, sadarlah bahwa tangan tersebut milik pria paruh baya yang duduk di seberang meja. Tanpa berkata-kata, hanya sedikit anggukan dan senyum tipis, pria itu tidak mengacuhkan pandangan wanita itu. Tangan itu mulai mengambil dan kemudian memakan makanan yang ada di atas meja di antara mereka. Tidak ada sopan santun sama sekali, pikir wanita itu. Dengan satu sentakan, wanta itupun mulai mengambil makanan itu. Dengan wajah yang tidak ramah, mulailah wanita itu memasukkan makanan itu ke mulutnya. Sambil terus membaca, sudut matanya melirik pria itu. Masih tetap makan dengan tidak ada sopan santunnya. Tanpa ada permintaan maaf, tanpa ada permohonan ijin untuk mengambil dan memakan kudapan itu, sungguh tidak sopan, wanita itu terus berpikir.

Pikirannya kemudian terhanyut di dalam buku yang dibacanya. Sesekali tangannya mengambil sepotong kudapan itu. Yang tidak dipikirkannya adalah ketika wanita itu mulai mengambil, pria di seberangpun mulai mengambil makanan itu dan memasukkannya ke mulutnya. Masih tanpa permisi, tanpa kata, tiada sopan, semakin wanita itu berpikir. Kejadian itu berulang dan berulang lagi sejalan dengan bertambahnya perasaan tidak suka, rasa jijik, marah, jengkel terhadap pria itu.

Akhirnya hanya tinggal sepotong makanan yang tersisa. Sungguh di luar dugaan wanita itu. Pria paruh baya itu membagi dua makanan yang tinggal sepotong itu. Diberikannya kepada wanita itu sepotong, dan sepotong lagi dimasukkannya ke mulutnya sendiri. Sambil melotot dan dengan muka galak disambernya sepotong sisa makanan itu. Dan dengan lahapnya dimasukkannya ke dalam mulutnya. Habis sudah makanan itu, tertinggal hanyalah kantong pembungkusnya.

Terdengar suara pengumuman panggilan untuk penumpang supaya masuk ke dalam pesawat yang telah siap. Pria itu dengan sigap berdiri sambil tersenyum kepada wanita itu dan mengambil kantong pembungkus makanan yang telah ludes itu dan sejurus kemudian membuangnya ke dalam kotak sampah. Dengan wajah mengejek dan pandangan meremehkan, wanita itupun beranjak untuk menuju ke pesawatnya.

Di dalam pesawat wanita itu melanjutkan membaca buku. Beberapa saat kemudian wanita itu merasa mengantuk. Ditutupnya buku itu dan dimasukkannya ke dalam tasnya. Terasa tanganya menyentuh sebuah bungkusan. Dengan perasaan tak menentu dikeluarkannya bungkusan itu. Terkejut wanita itu begitu melihat bungkusan itu. Ternyata bungkusan itu adalah makanan kecil yang tadi dibelinya bersamaan dengan buku bacaannya. Perasaan malu, terhina mulai menyelimuti hatinya. Sadarlah wanita itu bahwa sebenarnya makanan yang telah dia makan tadi adalah milik pria paruh baya itu. Ingin rasanya menangis dan meminta maaf kepada pria itu. Ternyata dia telah salah melakukan penilaian terhadap pria itu. Bahkan pria itu tidak melarang dirinya menghabiskan makanan itu. Pria itu ikhlas makanannya dihabiskan bahkan dia pula yang membuang kantong pembungkusnya ke kotak sampah, tanpa mengeluhkan perilaku wanita itu.

Apa yang kita pikirkan dan rasakan bila kita berada di pihak wanita itu?

Sadari di mana diri anda. Sadari dengan siapa anda saat ini. Sadari perilaku anda saat ini. Sadari pula yang sedang anda pikirkan. Sadari siapa sesungguhnya diri anda, jangan melihat orang lain, lihatlah diri anda.

Musuh Rahasia


Berikut aku sadur dari Jalaluddin Rumi, sufi terkenal itu.
Musuh dalam Diri : Musuh Paling Rahasia
Nabi Muhammad bersabda: “Malam ini panjang: jangan memendekkannya dengan tidur. Hari ini cerah: jangan menodainya dengan dosa.” Malam panjang untuk mengatakan rahasia dan membuat permintaan tanpa gangguan orang dan kesusahan sahabat serta musuh. Damai dan tenang dapat diraih, Tuhan merendahkan hijab hingga perbuatannya terjaga dari kemunafikan dan hanya dipersembahkan sendiri untuk-Nya. Pada malam gelap, orang munafik dapat dibedakan dari orang yang baik: orang munafik akan dipermalukan oleh malam.
Meskipun segala hal lain disembunyikan malam dan diperlihatkan siang, orang munafik akan disingkapkan malam, karena dia mengatakan, “Karena tidak seorang pun akan melihat, untuk manfaat siapa aku melakukan ini.”
Dia akan diberi tahu, “Seseorang melihatmu, tetapi engkau tidak melihat-Nya. Orang yang melihat engkau adalah yang memegang setiap orang di dalam genggaman kuasa-Nya dan yang dipanggil di saat sengsara.”
Ketika seseorang terserang sakit gigi, telinga, atau matanya terluka, atau di dalam ketakutan dan ketidakamanan, seluruh manusia berseru kepada-Nya. Dan di dalam hatinya menyerukan bahwa mereka beriman dan yakin Tuhan akan mendengar dan memenuhi permintaan mereka. Secara rahasia mereka memberikan derma untuk menghindari malapetaka atau menyembuhkan kembali orang sakit, dan mereka percaya Dia akan tahu sedekah itu diterima. Ketika Dia telah memberi mereka kesehatan dan kesembuhan, keyakinan mereka menghilang dan kembali pada kesenangan sia-sia. Mereka berkata, “Ah, Tuhan, jenis keadaan macam apakah itu? Kami berseru kepada-Mu dengan seluruh ketulusan dari sudut penjara kami. Kami telah mengatakan ribuan kali, ‘Katakan, Dia adalah Tuhan,’ dan Engkau memang mengabulkan keinginan kami. Sekarang kami akan keluar dari penjara itu, tetapi kami masih memerlukan Engkau untuk membawa kami keluar dari penjara ini, dari dunia kegelapan, ke dunia nabi, dunia cahaya. Kenapa pembebasan serupa tidak datang kepada kami di luar penjara dan dalam keadaan luka?”
Seribu dugaan berbeda muncul apakah itu bermanfaat atau tidak, dan pengaruh dugaan itu menyebabkan seribu keengganan dan ketumpulan. Dimanakah kepastian yang menghancurkan dugaan sia-sia itu? Tuhan kemudian menjawab, “Sebagaimana telah Aku katakan, jiwa binatangmu adalah musuhmu dan musuh-Ku: jangan jadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai sahabatmu.” [QS. 60:1]
Peliharalah penjagaanmu terhadap musuh di dalam penjara, karena saat dia sedang di penjara, penderitaan malapetaka dan luka, pembebasan dirimu sedang berada di tangan dan mencapai kekuatannya. Seribu kali engkau telah dicoba dengan sakit gigi, sakit kepala, dan takut. Kenapa kemudian engkau merantai tubuhmu, disibukkan dengan kepedulian terhadap hal itu? Jangan lupakan hal yang penting. Jagalah selalu jiwa badaniah dari memperoleh yang dia inginkan hingga engkau mampu meraih hasrat abadi dari penjara kegelapan. Siapa pun yang bisa menahan jiwannya dari hasrat berahi, sesungguhnya surga akan menjadi tempat tinggalnya. [QS. 79: 40-41]
Tulisan di atas, aku ambil dari buku “Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”. Aforisme sufistik Jalaluddin Rumi. Agak susah dimengerti memang, tetapi ketika dibaca dengan tenang tanpa ada beban di pikiran akan terlihat jelas dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan kita melihat ke orang lain, bercerminlah pada diri kita sendiri. Melihat melalui orang lain bagaimana sikap dan perilaku kita terhadap mereka. Bercermin kepada diri sendiri untuk dapat menghidupkan diri kita, lebih mengenal siapa kita sebenarnya. Dengan bercermin dan mengetahui diri kita, sudah pantaskah Tuhan hadir dalam setiap langkah, pikiran, perbuatan dan perkataan kita. Bila kita merasa belum pantas, sudah sepantasnya pula kita tidak mencela, mencaci orang lain. Kita caci diri kita sendiri, kemudian kita cuci dan kita bersihkan diri kita untuk menjadikannya pantas melakukan karya yang baik untuk orang lain.

Usia Kita


Saya baru saja kehilangan seorang teman, teman semasa kuliah. Teman saya meninggalkan dunia ini dalam usia yang relatif masih muda, tiga puluh tigaan. Di dalam bangku kuliah memang saya tidak begitu dekat dengannya, tetapi dia selalu menyapa saya dengan sebutan Lik Andri, Paklik atau Pak Cilik dalam Bahasa Jawa berarti adik dari orangtuanya. Atau terkadang dia memanggil Oom. Padahal saya belum setua itu waktu masih kuliah, hanya terpaut lima atau enam tahun darinya. Saya memang agak terlambat masuk bangku kuliah.
Sepertinya sekarang baru terasa, teman-teman kuliah dulu sudah lebih ”tua” dari saya. Mereka sudah dipanggil dengan sebutan Bapak atau Ibu. Sampai sekarang ini saya lebih sering dipanggil Oom. Di lingkungan perumahan, teman-teman keponakan, teman sekantor istripun memanggil demikian. Wah, emang masih muda kok, belum empat puluh tahun. Masih lebih muda dibanding dengan mereka yang berusia lima puluh tahun tentunya. Tetapi saya tetap nyaman dengan sebutan itu, Oom Andri. Awet enom kata orang Jawa.
Saya jadi ingat ketika mendengarkan motivasi dari Andri Wongso, dengan judul “Seorang kakek berusia sepuluh tahun”. Menceritakan sebuah kisah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun yang sedang belajar bersama dengan anak-anak yang berusia sepuluh tahun. Seorang kakek yang telah menghabiskan selama enam puluh tahun hanya untuk dirinya sendiri, tidak mau belajar memahami dirinya sendiri. Kakek tersebut masih saja mau belajar, masih mau bergabung dan masih mau berguru kepada yang lebih muda. Tidak ada istilah kebo nusu gudel (Jawa, berguru kepada orang yang lebih muda) dalam pendidikan kakek tersebut. Ada sebuah iklan rokok yang mencibir kepada mereka yang tidak mau mengakui kemampuan orang yang lebih muda. Yang lebih muda dianggap kurang mampu atau bahkan sama sekali tidak mampu memecahkan persoalan yang ringan sekalipun. Yang muda dianggap tidak sebanding dengan yang lebih tua. Padahal sebenarnya yang lebih tua hanya mengalami lebih dahulu dibanding dengan yang muda.
Ternyata hal seperti dia atas terjadi pula secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada yang merasa sudah cukup pendidikan yang dia peroleh kemudian tidak mau belajar baik belajar dari pengalaman hidup maupun belajar di lembaga formal. Sudah begitu meremehkan kemampuan mereka yang berusia lebih muda atau yang pendidikannya lebih rendah tingkatannya. Disadari ataupun tidak hal inipun pasti pernah menimpa kita. Kita pernah dianggap sebelah mata oleh orang lain, tetapi di sisi lain kita juga pernah meremehkan mereka yang berpenampilan kurang, atau yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
Usia kita ternyata juga bisa menipu orang lain maupun kepada diri kita sendiri. Bersyukurlah mereka yang masih menganggap usia mereka masih muda. Usia muda yang penuh dengan hasrat untuk lebih membuat orang lain merasa lebih dihormati, lebih bahagia. Usia muda bukan hanya sebatas rendahnya angka yang ditunjukkannya. Usia muda bukan hanya penampilan yang cenderung berdandan menyerupai orang yang memang berusia muda. Usia muda lebih ditunjukkan oleh jiwa yang selalu muda. Jiwa muda yang penuh dengan semangat untuk belajar, baik belajar untuk memahami orang lain, memahami alam, dan yang lebih penting adalah untuk dapat memahami dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa memahami pribadi dirinya sendiri kecuali dirinya sendiri, bukan orang lain.
Setiap orang mempunyai jiwa yang muda, semangat yang muda. Sebenarnya hanya urutan angka saja yang membedakannya secara fisik. Masih banyak terlihat mereka yang telah dikatakan berusia lanjut, ternyata mempunyai pemikiran yang muda. Orang yang telah berusia tua masih banyak yang melakukan kegiatan orang muda. Kadang membuat iri memang. Mumpung masih berusia dengan kepala dua, kepala tiga, empat, lima ataupun enam, kita dapat berlaku, berpikir seperti layaknya di “usia muda”. Hanya saja ditambah dengan pengalaman yang lebih banyak.
Ada sementara orang yang malu, enggan atau malahan tidak suka bahkan marah bila ditanya berapa usianya. Usia menunjukkan berapa lama seseorang hidup, berapa banyak pengalaman yang telah ditapaki, berapa banyak yang telah dikorbankan, berapa banyak yang telah diberikan kepada orang lain, dan masih banyak lagi. Kembali kepada diri kita. Dengan usia yang telah kita miliki, apakah telah menjadi berguna bagi diri kita dan orang lain?

Peluang di Masa Krisis


Sementara dunia ini masih diributkan dengan isu moneter yang diyakini berimbas ke dunia bisnis di Indonesia, kita masih dapat berharap pada kekuatan diri kita. Kekuatan ini biasanya tidak disadari oleh pemiliknya. Bahkan untuk beberapa orang merasa tidak punya daya lagi sehingga menempuh cara yang melenceng dari “kebenaran”.
Tanpa disadari di setiap jalan yang kita lalui, kita akan melihat bahwa isu resesi, penurunan daya beli, kenaikan jumlah pengangguran, kenaikan angka kemiskinan tidak menampakkan diri. Berlindung di balik kesenangan, kemewahan, keberhasilan orang yang memang sudah berhasil dengan daya upaya yang tidak bisa disebut kecil. Kita masih bisa melihat tetangga, saudara, teman yang katanya mempunyai daya beli yang terbatas masih dapat “berkeliaran” di mal, pusat perbelanjaan, dengan menenteng tas belanja. Ternyata mereka masih mampu.
Krisis global cenderung berimbas kepada mereka yang berhubungan dengan pihak luar negeri baik langsung maupun tidak. Baik pengusaha maupun karyawan di perusahaannya. Tetapi bagi karyawan di bidang lain tampaknya biasa saja, bahkan beberapa karyawan free lance tidak terpengaruh sama sekali dengan isu di atas.
Apakah hanya sekedar isu? Atau memang yang sebenarnya terjadi? Percayakah kita bahwa hal ini memang terjadi?
Bila kita melihat di televisi atau yang kita baca dari koran, telah ribuan pekerja yang kehilangan pekerjaannya akibat dari krisis global dewasa ini. Sektor industri dengan orientasi ekspor pasti terkena dampaknya secara langsung. Sedangkan industri penopangnya masih bisa berkelit dari imbas ini. Bagaimana dengan industri dengan orientasi konsumen domestik dan konsumsi sehari-hari? Bisa dijawab dengan “agak” mantap, tidak atau kurang terpengaruh. Bagaimana pula dengan industri dengan produk yang setiap saat dan setiap hari dikonsumsi? Istri saya menjawab, “kalau setiap orang pakai apalagi setiap hari tentu produk tersebut tetap dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen”. Pas sekali pikir saya.
Masih banyak kesempatan untuk berkelit dari isu krisis global. Dari sekian banyak industri masih ada banyak produsen dengan mantapnya melenggang di tengah tekanan krisis ini. Banyak pula metode ataupun cara-cara memasarkan produknya. Yang jelas telah dapat diperkirakan sebelumnya bahwa belanja iklan berbagai produsen berkurang dengan drastis. Bahkan ada pula yang tidak lagi belanja iklan. Tapi bagaimana konsumen mengenal atau beralih ke suatu produk bila iklan sudah tidak ada ataupun jarang? Bisakah model direct selling atau bahkan multi level marketing bisa dijadikan acuan untuk memasarkan suatu produk yang dikonsumsi setiap hari?
Banyak produk yang telah dipasarkan dengan metode penjualan langsung atau dengan pemasaran berjenjang. Penjualan dan pemasaran mereka bisa disebut sukses. Mereka memotong biaya iklan dan distribusi. Mereka hanya mengirimkan produknya ke cabang. Dari cabang inilah pendistribusian produk dilakukan secara penjualan langsung atau melalui sistem pemasaran berjenjang. Hanya saja kecenderungan masyarakat dewasa ini belum sepenuhnya dapat menerima sistem ini, dan masih mengutamakan sistem tradisional. Yang dimaksudkan dengan sistem tradisional adalah penjualan dengan menggunakan toko, warung, pameran, bazaar dan penjualan dari pintu ke pintu.
Produk dengan sistem penjualan langsung dengan pemasaran berjenjang terlihat sangat menggiurkan. Betapa tidak seseorang dengan bekerja dalam sistem ini dapat memperlihatkan pendapatan yang dibilang tidak sedikit, bahkan dapat melebihi mereka dengan sistem tradisional. Berbagai penghargaan baik tunai maupun non tunai mereka dapatkan. Meskipun mereka menjelaskan sistem mereka dengan “berbusa-busa”, tidak jarang banyak yang tidak mau bergabung. Ada yang mau bergabung tetapi dengan tidak sepenuh hati. Tetapi ada pula yang antusias.
Apakah anda berminat? Penjualan langsung atau pemasaran berjenjang pantas dicoba untuk masa sekarang ini.

Belajar


Sebentar lagi kita dapat melihat hasil dari pesta demokrasi yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009. Apapun hasilnya patut kita syukuri. Baik pelaksanaan yang terlihat kurang persiapan, maupun hasil penghitungan suara yang masih diperdebatkan. Baik buruk pelaksanaan adalah cerminan pola pikir kita bersama. Meskipun pada persiapan yang sebagian orang mengatakan kurang baik atau bahkan terkesan dipaksakan, tetapi hasil akhir dari semua itu. Hasil yang bermuara kepada keberlanjutan pembangunan negeri kita tercinta.
Apapun pilihan kita pada 9 April lalu dan apapun hasilnya, patut kita terima, kita dukung untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Kecewa tentu ada manakala pilihan kita tidak bisa berhasil memenangkan pemilu. Kecewa manakala hasil yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Tetapi apakah kita akan selalu terbenam dalam kekecewaan kita. Kecewa boleh tetapi jangan terlalu lama dan terlalu mendalam. Kekecewaan yang terlalu dan terlalu akan membawa kita kepada kelemahan diri kita sendiri. Kita tidak akan percaya lagi kepada apa yang kita harapkan. Bahkan dapat pula semakin menjelekkan orang lain.
Orang lain pasti mempunyai cara dan pemikiran yang berbeda dengan kita.
Benar, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda satu dengan yang lain. Adakalanya perbedaan itu sangat tipis, bahkan bisa dikatakan sama. Perbedaan yang tipis ini justru dapat menimbulkan perselisihan dan adu pendapat. Apalagi dibumbui dengan emosi pribadi, bisa jadi perbedaan satu centimeter menjadi satu kilometer. Rumyam kan?
Cara memandang perbedaan ini yang menjadi umpan untuk memancing perselisihan oleh berbagai pihak. Ada yang memanfaatkan dan ada pula yang berusahan untuk menguranginya sampai batas tertipis yang dapat dicapai. Tukang kompor, ada orang yang meyebut provokator, intinya sama saja, orang yang berusaha mengadu antar pihak. Semakin banyak saja orang yang “berprofesi” demikian. Mungkin kita berpikir, bagaimana cara pikir dan cara pandang mereka? Apa yang mereka kejar sebenarnya? Keuntungan berwujud apa yang mereka dapat? Banyak yang dapat diandaikan dan sebaiknya kita berusaha untuk tidak mencari tahu lebih dalam lagi.
Terpikir oleh kita bagaimana kehidupan kita diatur sedemikian rupa oleh orang yang kita percayai. Bagaimana kalau mereka berkhianat? Bagaimana kalau mereka justru berbalik melawan kita? Tinggal bagaimana sikap kita selanjutnya. Mari kita coba untuk mengetahui apa yang kita pikirkan dan yang akan kita lakukan. Kita coba untuk menyelami diri kita sendiri untuk lebih mengenal siapa sebenarnya kita. Kita harus sejalan dengan apa yang kita rasakan, pikirkan dan lakukan. Mulai bertanya kepada nurani kita, apa yang sebaiknya kita lakukan selanjutnya.
Mudah memang kalau hanya dikatakan, sulit untuk dilaksanakan. Padahal ini hanya kita lakukan kepada diri kita sendiri. Bagaimana bila kita lakukan kepada orang lain? Untuk orang lain? Akan semakin sulit dan belum tentu orang lain senang. Berkaca kepada diri kita sendiri adalah sesuatu hal yang paling sederhana untuk mengenal diri kita. Kalau kita merasa sakit bila dicubit, tidak perlu kita mencubit orang lain. Belajar untuk seperti orang lain yang mencoba untuk mengenal diri kita. Atau relakah kita untuk dapat dikenal orang lain?
Dikenal banyak orang ada kalanya membawa keberuntungan untuk kita. Dengan dikenal banyak orang, sebaiknya kita juga mengenal mereka. Bila hal ini terjadi akan menghasilkan banyak kawan, banyak teman, dan banyak sahabat. Ada pepatah a friend in need is a friend indeed. Dengan banyak teman dan sahabat ini pula akan membawa keberuntungan lain kepada kita, banyak teman akan membawa kekuatan kepada kita.
Kita lupakan saja persoalan mengenai perbedaan pandangan tentang sesuatu kalau hal ini akan membawa perpecahan. Pelajari perbedaan dengan semangat mencari teman dan sahabat baru. Ambil setap ada perselisihan dengan orang lain dan jadikan hal ini untuk mengenal mereka tanpa memandang kesalahan dan kekurangan mereka. Kita ambil saja kebenaran mereka, kita jadikan satu dengan kebenaran kita, tambah lagi kita dengan kebenaran yang lain, kita akan menadaptkan banyak kebenaran dalam kehidupan kita.

Hello world!


BERSANDAR PADA KEHENDAK SANG PENGUASA ALAM SEMESTA