Tulisan ini diambil dari siaran di sebuah stasiun radio di Jogja. Dikisahkan pada suatu ketika di sebuah bandar udara. Seorang wanita karir sedang menunggu pesawat terakhir yang akan mengantarnya pulang ke kotanya. Keberangkatan pesawat itu masih lama, sekitar dua, bahkan bisa tiga jam bila ada delay keberangkatan. Malam itu tidak banyak penumpang yang berada di bandara. Semakin membuat dingin udara malam semakin dingin.
Untuk mengisi waktu, wanita itu jalan-jalan sambil mencari makanan kecil dan buku bacaan. Berjalan sambil menghangatkan badan. Beberapa saat kemudian, terlihat wanita tersebut menenteng sebuah buku dan sekantung makanan kecil. Tidak susah untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman di sana, memang suasana sedikit lengang. Didapatkannya sebuah tempat duduk dengan sebuah meja kecil di sampingnya. Di seberang meja tersebut duduk pula seorang pria paruh baya dengan penampilan yang kurang meyakinkan bahkan sedikit kusut. Sedikit keraguan melanda wanita itu tatkala melihat sepintas pria di seberang meja di antara mereka. Dengan sedikit angkuh, wanita itu duduk. Dengan santai mulailah membuka buku yang baru saja dibelinya. Halaman demi halaman dibaca kata demi kata. Sambil membaca buku, tangannya meraih dan mengambil makanan kecil yang ada di meja sampingnya. Tanpa memperhatikan sekelilingnya, dia terus membaca sambil makan makanan kecil di tangannya.
Wanita itu terkejut ketika ada tangan yang mengambil makanan kecil tersebut. Ketika dia berpaling ke arah tangan tersebut, sadarlah bahwa tangan tersebut milik pria paruh baya yang duduk di seberang meja. Tanpa berkata-kata, hanya sedikit anggukan dan senyum tipis, pria itu tidak mengacuhkan pandangan wanita itu. Tangan itu mulai mengambil dan kemudian memakan makanan yang ada di atas meja di antara mereka. Tidak ada sopan santun sama sekali, pikir wanita itu. Dengan satu sentakan, wanta itupun mulai mengambil makanan itu. Dengan wajah yang tidak ramah, mulailah wanita itu memasukkan makanan itu ke mulutnya. Sambil terus membaca, sudut matanya melirik pria itu. Masih tetap makan dengan tidak ada sopan santunnya. Tanpa ada permintaan maaf, tanpa ada permohonan ijin untuk mengambil dan memakan kudapan itu, sungguh tidak sopan, wanita itu terus berpikir.
Pikirannya kemudian terhanyut di dalam buku yang dibacanya. Sesekali tangannya mengambil sepotong kudapan itu. Yang tidak dipikirkannya adalah ketika wanita itu mulai mengambil, pria di seberangpun mulai mengambil makanan itu dan memasukkannya ke mulutnya. Masih tanpa permisi, tanpa kata, tiada sopan, semakin wanita itu berpikir. Kejadian itu berulang dan berulang lagi sejalan dengan bertambahnya perasaan tidak suka, rasa jijik, marah, jengkel terhadap pria itu.
Akhirnya hanya tinggal sepotong makanan yang tersisa. Sungguh di luar dugaan wanita itu. Pria paruh baya itu membagi dua makanan yang tinggal sepotong itu. Diberikannya kepada wanita itu sepotong, dan sepotong lagi dimasukkannya ke mulutnya sendiri. Sambil melotot dan dengan muka galak disambernya sepotong sisa makanan itu. Dan dengan lahapnya dimasukkannya ke dalam mulutnya. Habis sudah makanan itu, tertinggal hanyalah kantong pembungkusnya.
Terdengar suara pengumuman panggilan untuk penumpang supaya masuk ke dalam pesawat yang telah siap. Pria itu dengan sigap berdiri sambil tersenyum kepada wanita itu dan mengambil kantong pembungkus makanan yang telah ludes itu dan sejurus kemudian membuangnya ke dalam kotak sampah. Dengan wajah mengejek dan pandangan meremehkan, wanita itupun beranjak untuk menuju ke pesawatnya.
Di dalam pesawat wanita itu melanjutkan membaca buku. Beberapa saat kemudian wanita itu merasa mengantuk. Ditutupnya buku itu dan dimasukkannya ke dalam tasnya. Terasa tanganya menyentuh sebuah bungkusan. Dengan perasaan tak menentu dikeluarkannya bungkusan itu. Terkejut wanita itu begitu melihat bungkusan itu. Ternyata bungkusan itu adalah makanan kecil yang tadi dibelinya bersamaan dengan buku bacaannya. Perasaan malu, terhina mulai menyelimuti hatinya. Sadarlah wanita itu bahwa sebenarnya makanan yang telah dia makan tadi adalah milik pria paruh baya itu. Ingin rasanya menangis dan meminta maaf kepada pria itu. Ternyata dia telah salah melakukan penilaian terhadap pria itu. Bahkan pria itu tidak melarang dirinya menghabiskan makanan itu. Pria itu ikhlas makanannya dihabiskan bahkan dia pula yang membuang kantong pembungkusnya ke kotak sampah, tanpa mengeluhkan perilaku wanita itu.
Apa yang kita pikirkan dan rasakan bila kita berada di pihak wanita itu?
Sadari di mana diri anda. Sadari dengan siapa anda saat ini. Sadari perilaku anda saat ini. Sadari pula yang sedang anda pikirkan. Sadari siapa sesungguhnya diri anda, jangan melihat orang lain, lihatlah diri anda.
