Saya baru saja kehilangan seorang teman, teman semasa kuliah. Teman saya meninggalkan dunia ini dalam usia yang relatif masih muda, tiga puluh tigaan. Di dalam bangku kuliah memang saya tidak begitu dekat dengannya, tetapi dia selalu menyapa saya dengan sebutan Lik Andri, Paklik atau Pak Cilik dalam Bahasa Jawa berarti adik dari orangtuanya. Atau terkadang dia memanggil Oom. Padahal saya belum setua itu waktu masih kuliah, hanya terpaut lima atau enam tahun darinya. Saya memang agak terlambat masuk bangku kuliah.
Sepertinya sekarang baru terasa, teman-teman kuliah dulu sudah lebih ”tua” dari saya. Mereka sudah dipanggil dengan sebutan Bapak atau Ibu. Sampai sekarang ini saya lebih sering dipanggil Oom. Di lingkungan perumahan, teman-teman keponakan, teman sekantor istripun memanggil demikian. Wah, emang masih muda kok, belum empat puluh tahun. Masih lebih muda dibanding dengan mereka yang berusia lima puluh tahun tentunya. Tetapi saya tetap nyaman dengan sebutan itu, Oom Andri. Awet enom kata orang Jawa.
Saya jadi ingat ketika mendengarkan motivasi dari Andri Wongso, dengan judul “Seorang kakek berusia sepuluh tahun”. Menceritakan sebuah kisah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun yang sedang belajar bersama dengan anak-anak yang berusia sepuluh tahun. Seorang kakek yang telah menghabiskan selama enam puluh tahun hanya untuk dirinya sendiri, tidak mau belajar memahami dirinya sendiri. Kakek tersebut masih saja mau belajar, masih mau bergabung dan masih mau berguru kepada yang lebih muda. Tidak ada istilah kebo nusu gudel (Jawa, berguru kepada orang yang lebih muda) dalam pendidikan kakek tersebut. Ada sebuah iklan rokok yang mencibir kepada mereka yang tidak mau mengakui kemampuan orang yang lebih muda. Yang lebih muda dianggap kurang mampu atau bahkan sama sekali tidak mampu memecahkan persoalan yang ringan sekalipun. Yang muda dianggap tidak sebanding dengan yang lebih tua. Padahal sebenarnya yang lebih tua hanya mengalami lebih dahulu dibanding dengan yang muda.
Ternyata hal seperti dia atas terjadi pula secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada yang merasa sudah cukup pendidikan yang dia peroleh kemudian tidak mau belajar baik belajar dari pengalaman hidup maupun belajar di lembaga formal. Sudah begitu meremehkan kemampuan mereka yang berusia lebih muda atau yang pendidikannya lebih rendah tingkatannya. Disadari ataupun tidak hal inipun pasti pernah menimpa kita. Kita pernah dianggap sebelah mata oleh orang lain, tetapi di sisi lain kita juga pernah meremehkan mereka yang berpenampilan kurang, atau yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
Usia kita ternyata juga bisa menipu orang lain maupun kepada diri kita sendiri. Bersyukurlah mereka yang masih menganggap usia mereka masih muda. Usia muda yang penuh dengan hasrat untuk lebih membuat orang lain merasa lebih dihormati, lebih bahagia. Usia muda bukan hanya sebatas rendahnya angka yang ditunjukkannya. Usia muda bukan hanya penampilan yang cenderung berdandan menyerupai orang yang memang berusia muda. Usia muda lebih ditunjukkan oleh jiwa yang selalu muda. Jiwa muda yang penuh dengan semangat untuk belajar, baik belajar untuk memahami orang lain, memahami alam, dan yang lebih penting adalah untuk dapat memahami dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa memahami pribadi dirinya sendiri kecuali dirinya sendiri, bukan orang lain.
Setiap orang mempunyai jiwa yang muda, semangat yang muda. Sebenarnya hanya urutan angka saja yang membedakannya secara fisik. Masih banyak terlihat mereka yang telah dikatakan berusia lanjut, ternyata mempunyai pemikiran yang muda. Orang yang telah berusia tua masih banyak yang melakukan kegiatan orang muda. Kadang membuat iri memang. Mumpung masih berusia dengan kepala dua, kepala tiga, empat, lima ataupun enam, kita dapat berlaku, berpikir seperti layaknya di “usia muda”. Hanya saja ditambah dengan pengalaman yang lebih banyak.
Ada sementara orang yang malu, enggan atau malahan tidak suka bahkan marah bila ditanya berapa usianya. Usia menunjukkan berapa lama seseorang hidup, berapa banyak pengalaman yang telah ditapaki, berapa banyak yang telah dikorbankan, berapa banyak yang telah diberikan kepada orang lain, dan masih banyak lagi. Kembali kepada diri kita. Dengan usia yang telah kita miliki, apakah telah menjadi berguna bagi diri kita dan orang lain?
Category: pertemanan
Sebentar lagi kita dapat melihat hasil dari pesta demokrasi yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009. Apapun hasilnya patut kita syukuri. Baik pelaksanaan yang terlihat kurang persiapan, maupun hasil penghitungan suara yang masih diperdebatkan. Baik buruk pelaksanaan adalah cerminan pola pikir kita bersama. Meskipun pada persiapan yang sebagian orang mengatakan kurang baik atau bahkan terkesan dipaksakan, tetapi hasil akhir dari semua itu. Hasil yang bermuara kepada keberlanjutan pembangunan negeri kita tercinta.
Apapun pilihan kita pada 9 April lalu dan apapun hasilnya, patut kita terima, kita dukung untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Kecewa tentu ada manakala pilihan kita tidak bisa berhasil memenangkan pemilu. Kecewa manakala hasil yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Tetapi apakah kita akan selalu terbenam dalam kekecewaan kita. Kecewa boleh tetapi jangan terlalu lama dan terlalu mendalam. Kekecewaan yang terlalu dan terlalu akan membawa kita kepada kelemahan diri kita sendiri. Kita tidak akan percaya lagi kepada apa yang kita harapkan. Bahkan dapat pula semakin menjelekkan orang lain.
Orang lain pasti mempunyai cara dan pemikiran yang berbeda dengan kita.
Benar, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda satu dengan yang lain. Adakalanya perbedaan itu sangat tipis, bahkan bisa dikatakan sama. Perbedaan yang tipis ini justru dapat menimbulkan perselisihan dan adu pendapat. Apalagi dibumbui dengan emosi pribadi, bisa jadi perbedaan satu centimeter menjadi satu kilometer. Rumyam kan?
Cara memandang perbedaan ini yang menjadi umpan untuk memancing perselisihan oleh berbagai pihak. Ada yang memanfaatkan dan ada pula yang berusahan untuk menguranginya sampai batas tertipis yang dapat dicapai. Tukang kompor, ada orang yang meyebut provokator, intinya sama saja, orang yang berusaha mengadu antar pihak. Semakin banyak saja orang yang “berprofesi” demikian. Mungkin kita berpikir, bagaimana cara pikir dan cara pandang mereka? Apa yang mereka kejar sebenarnya? Keuntungan berwujud apa yang mereka dapat? Banyak yang dapat diandaikan dan sebaiknya kita berusaha untuk tidak mencari tahu lebih dalam lagi.
Terpikir oleh kita bagaimana kehidupan kita diatur sedemikian rupa oleh orang yang kita percayai. Bagaimana kalau mereka berkhianat? Bagaimana kalau mereka justru berbalik melawan kita? Tinggal bagaimana sikap kita selanjutnya. Mari kita coba untuk mengetahui apa yang kita pikirkan dan yang akan kita lakukan. Kita coba untuk menyelami diri kita sendiri untuk lebih mengenal siapa sebenarnya kita. Kita harus sejalan dengan apa yang kita rasakan, pikirkan dan lakukan. Mulai bertanya kepada nurani kita, apa yang sebaiknya kita lakukan selanjutnya.
Mudah memang kalau hanya dikatakan, sulit untuk dilaksanakan. Padahal ini hanya kita lakukan kepada diri kita sendiri. Bagaimana bila kita lakukan kepada orang lain? Untuk orang lain? Akan semakin sulit dan belum tentu orang lain senang. Berkaca kepada diri kita sendiri adalah sesuatu hal yang paling sederhana untuk mengenal diri kita. Kalau kita merasa sakit bila dicubit, tidak perlu kita mencubit orang lain. Belajar untuk seperti orang lain yang mencoba untuk mengenal diri kita. Atau relakah kita untuk dapat dikenal orang lain?
Dikenal banyak orang ada kalanya membawa keberuntungan untuk kita. Dengan dikenal banyak orang, sebaiknya kita juga mengenal mereka. Bila hal ini terjadi akan menghasilkan banyak kawan, banyak teman, dan banyak sahabat. Ada pepatah a friend in need is a friend indeed. Dengan banyak teman dan sahabat ini pula akan membawa keberuntungan lain kepada kita, banyak teman akan membawa kekuatan kepada kita.
Kita lupakan saja persoalan mengenai perbedaan pandangan tentang sesuatu kalau hal ini akan membawa perpecahan. Pelajari perbedaan dengan semangat mencari teman dan sahabat baru. Ambil setap ada perselisihan dengan orang lain dan jadikan hal ini untuk mengenal mereka tanpa memandang kesalahan dan kekurangan mereka. Kita ambil saja kebenaran mereka, kita jadikan satu dengan kebenaran kita, tambah lagi kita dengan kebenaran yang lain, kita akan menadaptkan banyak kebenaran dalam kehidupan kita.
