Sementara dunia ini masih diributkan dengan isu moneter yang diyakini berimbas ke dunia bisnis di Indonesia, kita masih dapat berharap pada kekuatan diri kita. Kekuatan ini biasanya tidak disadari oleh pemiliknya. Bahkan untuk beberapa orang merasa tidak punya daya lagi sehingga menempuh cara yang melenceng dari “kebenaran”.
Tanpa disadari di setiap jalan yang kita lalui, kita akan melihat bahwa isu resesi, penurunan daya beli, kenaikan jumlah pengangguran, kenaikan angka kemiskinan tidak menampakkan diri. Berlindung di balik kesenangan, kemewahan, keberhasilan orang yang memang sudah berhasil dengan daya upaya yang tidak bisa disebut kecil. Kita masih bisa melihat tetangga, saudara, teman yang katanya mempunyai daya beli yang terbatas masih dapat “berkeliaran” di mal, pusat perbelanjaan, dengan menenteng tas belanja. Ternyata mereka masih mampu.
Krisis global cenderung berimbas kepada mereka yang berhubungan dengan pihak luar negeri baik langsung maupun tidak. Baik pengusaha maupun karyawan di perusahaannya. Tetapi bagi karyawan di bidang lain tampaknya biasa saja, bahkan beberapa karyawan free lance tidak terpengaruh sama sekali dengan isu di atas.
Apakah hanya sekedar isu? Atau memang yang sebenarnya terjadi? Percayakah kita bahwa hal ini memang terjadi?
Bila kita melihat di televisi atau yang kita baca dari koran, telah ribuan pekerja yang kehilangan pekerjaannya akibat dari krisis global dewasa ini. Sektor industri dengan orientasi ekspor pasti terkena dampaknya secara langsung. Sedangkan industri penopangnya masih bisa berkelit dari imbas ini. Bagaimana dengan industri dengan orientasi konsumen domestik dan konsumsi sehari-hari? Bisa dijawab dengan “agak” mantap, tidak atau kurang terpengaruh. Bagaimana pula dengan industri dengan produk yang setiap saat dan setiap hari dikonsumsi? Istri saya menjawab, “kalau setiap orang pakai apalagi setiap hari tentu produk tersebut tetap dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen”. Pas sekali pikir saya.
Masih banyak kesempatan untuk berkelit dari isu krisis global. Dari sekian banyak industri masih ada banyak produsen dengan mantapnya melenggang di tengah tekanan krisis ini. Banyak pula metode ataupun cara-cara memasarkan produknya. Yang jelas telah dapat diperkirakan sebelumnya bahwa belanja iklan berbagai produsen berkurang dengan drastis. Bahkan ada pula yang tidak lagi belanja iklan. Tapi bagaimana konsumen mengenal atau beralih ke suatu produk bila iklan sudah tidak ada ataupun jarang? Bisakah model direct selling atau bahkan multi level marketing bisa dijadikan acuan untuk memasarkan suatu produk yang dikonsumsi setiap hari?
Banyak produk yang telah dipasarkan dengan metode penjualan langsung atau dengan pemasaran berjenjang. Penjualan dan pemasaran mereka bisa disebut sukses. Mereka memotong biaya iklan dan distribusi. Mereka hanya mengirimkan produknya ke cabang. Dari cabang inilah pendistribusian produk dilakukan secara penjualan langsung atau melalui sistem pemasaran berjenjang. Hanya saja kecenderungan masyarakat dewasa ini belum sepenuhnya dapat menerima sistem ini, dan masih mengutamakan sistem tradisional. Yang dimaksudkan dengan sistem tradisional adalah penjualan dengan menggunakan toko, warung, pameran, bazaar dan penjualan dari pintu ke pintu.
Produk dengan sistem penjualan langsung dengan pemasaran berjenjang terlihat sangat menggiurkan. Betapa tidak seseorang dengan bekerja dalam sistem ini dapat memperlihatkan pendapatan yang dibilang tidak sedikit, bahkan dapat melebihi mereka dengan sistem tradisional. Berbagai penghargaan baik tunai maupun non tunai mereka dapatkan. Meskipun mereka menjelaskan sistem mereka dengan “berbusa-busa”, tidak jarang banyak yang tidak mau bergabung. Ada yang mau bergabung tetapi dengan tidak sepenuh hati. Tetapi ada pula yang antusias.
Apakah anda berminat? Penjualan langsung atau pemasaran berjenjang pantas dicoba untuk masa sekarang ini.
