Sebentar lagi kita dapat melihat hasil dari pesta demokrasi yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009. Apapun hasilnya patut kita syukuri. Baik pelaksanaan yang terlihat kurang persiapan, maupun hasil penghitungan suara yang masih diperdebatkan. Baik buruk pelaksanaan adalah cerminan pola pikir kita bersama. Meskipun pada persiapan yang sebagian orang mengatakan kurang baik atau bahkan terkesan dipaksakan, tetapi hasil akhir dari semua itu. Hasil yang bermuara kepada keberlanjutan pembangunan negeri kita tercinta.
Apapun pilihan kita pada 9 April lalu dan apapun hasilnya, patut kita terima, kita dukung untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Kecewa tentu ada manakala pilihan kita tidak bisa berhasil memenangkan pemilu. Kecewa manakala hasil yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Tetapi apakah kita akan selalu terbenam dalam kekecewaan kita. Kecewa boleh tetapi jangan terlalu lama dan terlalu mendalam. Kekecewaan yang terlalu dan terlalu akan membawa kita kepada kelemahan diri kita sendiri. Kita tidak akan percaya lagi kepada apa yang kita harapkan. Bahkan dapat pula semakin menjelekkan orang lain.
Orang lain pasti mempunyai cara dan pemikiran yang berbeda dengan kita.
Benar, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda satu dengan yang lain. Adakalanya perbedaan itu sangat tipis, bahkan bisa dikatakan sama. Perbedaan yang tipis ini justru dapat menimbulkan perselisihan dan adu pendapat. Apalagi dibumbui dengan emosi pribadi, bisa jadi perbedaan satu centimeter menjadi satu kilometer. Rumyam kan?
Cara memandang perbedaan ini yang menjadi umpan untuk memancing perselisihan oleh berbagai pihak. Ada yang memanfaatkan dan ada pula yang berusahan untuk menguranginya sampai batas tertipis yang dapat dicapai. Tukang kompor, ada orang yang meyebut provokator, intinya sama saja, orang yang berusaha mengadu antar pihak. Semakin banyak saja orang yang “berprofesi” demikian. Mungkin kita berpikir, bagaimana cara pikir dan cara pandang mereka? Apa yang mereka kejar sebenarnya? Keuntungan berwujud apa yang mereka dapat? Banyak yang dapat diandaikan dan sebaiknya kita berusaha untuk tidak mencari tahu lebih dalam lagi.
Terpikir oleh kita bagaimana kehidupan kita diatur sedemikian rupa oleh orang yang kita percayai. Bagaimana kalau mereka berkhianat? Bagaimana kalau mereka justru berbalik melawan kita? Tinggal bagaimana sikap kita selanjutnya. Mari kita coba untuk mengetahui apa yang kita pikirkan dan yang akan kita lakukan. Kita coba untuk menyelami diri kita sendiri untuk lebih mengenal siapa sebenarnya kita. Kita harus sejalan dengan apa yang kita rasakan, pikirkan dan lakukan. Mulai bertanya kepada nurani kita, apa yang sebaiknya kita lakukan selanjutnya.
Mudah memang kalau hanya dikatakan, sulit untuk dilaksanakan. Padahal ini hanya kita lakukan kepada diri kita sendiri. Bagaimana bila kita lakukan kepada orang lain? Untuk orang lain? Akan semakin sulit dan belum tentu orang lain senang. Berkaca kepada diri kita sendiri adalah sesuatu hal yang paling sederhana untuk mengenal diri kita. Kalau kita merasa sakit bila dicubit, tidak perlu kita mencubit orang lain. Belajar untuk seperti orang lain yang mencoba untuk mengenal diri kita. Atau relakah kita untuk dapat dikenal orang lain?
Dikenal banyak orang ada kalanya membawa keberuntungan untuk kita. Dengan dikenal banyak orang, sebaiknya kita juga mengenal mereka. Bila hal ini terjadi akan menghasilkan banyak kawan, banyak teman, dan banyak sahabat. Ada pepatah a friend in need is a friend indeed. Dengan banyak teman dan sahabat ini pula akan membawa keberuntungan lain kepada kita, banyak teman akan membawa kekuatan kepada kita.
Kita lupakan saja persoalan mengenai perbedaan pandangan tentang sesuatu kalau hal ini akan membawa perpecahan. Pelajari perbedaan dengan semangat mencari teman dan sahabat baru. Ambil setap ada perselisihan dengan orang lain dan jadikan hal ini untuk mengenal mereka tanpa memandang kesalahan dan kekurangan mereka. Kita ambil saja kebenaran mereka, kita jadikan satu dengan kebenaran kita, tambah lagi kita dengan kebenaran yang lain, kita akan menadaptkan banyak kebenaran dalam kehidupan kita.
